Rabu, 12 April 2017

Hari Santri, KPMDB Jakarta Santuni Anak Yatim


Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) wilayah Jakarta bekerja sama dengan Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupaten Brebes menyelenggarakan kegiatan Santunan yatim piatu di pondok pesantren Sabiluna Ciputat Tangerang Selatan, Minggu (23/10).
Sebanyak 30 orang yatim piatu hadir pada acara tersebut serta mendapatkan bantuan finansial berupa uang dan alat tulis sekolah. Acara ini diprakarsai oleh Bidang Sosial dan Keagamaan KPMDB Wilayah Jakarta ini terbilang sukses, karena menarik perhatian banyak pihak yang ingin turut serta dalam kegiatan sosial khususnya di kegiatan santunan.
“ Acara ini terselenggara atas dasar rasa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama,” kata Anisul Fahmi S.Th.I selaku Ketua Umum KPMDB Jakarta. Lanjut Anis, dengan kegiatan seperti ini sebagai bentuk kontribusi pada daerah, karena perlu diketahui bahwa pondok pesantren sabiluna merupakan pondok pesantren yang santrinya didominasi oleh anak-anak kurang mampu asal daerah Brebes.
“Harapannya acara dalam bentuk seperti ini akan terus ada serta untuk memupuk jiwa sosial pengurus KPMDB Jakarta khususnya dalam membantu anak-anak yang kurang beruntung,” tambahnya.
Sementara itu, Taufik Setyaudin, MA selaku kepala sekolah Pondok pesantren Sabiluna yang juga sebagai pembina KPMDB Jakarta mengungkapkan rasa bangganya kepada semua pihak terutama KPMDB Jakarta yang sudah mau peduli dengan anak kurang mampu.
“ Kami atas nama ponpes sabiluna mengapresiasi kepada KPMDB Jakarta yang mempunyai jiwa sosial untuk berbagi kepada anak yatim yang ada di ponpes ini,” ungkapnya
Acara ini juga dimeriahkan oleh beberapa hiburan di antaranya adalah penampilan kesenian Hadroh dari santriwan dan santriwati pondok pesantren Sabiluna serta kegiatan ini juga keterlibatan para santrinya ikut menjadi panitia dalam kegiatan ini.

KPUD Brebes gandeng KPMDB Jakarta Sosialisasi Pemilukada


Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Brebes mengadakan acara yang bertajuk sosialisasi pemilihan umum tahun 2017. Sebanyak 100 peserta hadir Aula FISIP UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) mengikuti acara tersebut. Kegiatan ini dikhususkan bagi masyarakat brebes yang berada diluar daerah khususnya di jakarta. Acara ini terselanggara atas kerjasama KPUD Brebes dengan KPMDB (Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes) wilayah Jakarta.
Acara dimulai pada pukul 10.00 menghadirkan dua pembicara tingkat nasional, Yakni Juri Ardiantoro selaku ketua KPU RI, dan pembicara kedua Daniel Zuhron selaku Komisioner BAWASLU RI dan dipandu oleh bapak Reza Pahlevi selaku Ketua KPUD Brebes.
Menurut Reza Pahlevi, acara Sosialisasi PEMILUKADA ini dimaksud untuk mengajak para perantau yang diluar Brebes, khususnya di Jakarta tentang bagaimana pentingnya menggunakan hak suaranya untuk menentukan masa depan Brebes yang lebih berwibawa. Acara ini merupakan terobosan dari KPUD Brebes yang pertama kali dilakukan dengan bersosialisasi keluar daerah Brebes, “ Saya sangat mengapresiasi program dari KPUD Brebes, saya rasa ini terobosan yang sangat bagus yang bisa dicontoh KPUD  dari luar Brebes,” ungkap Daniel Zuhron saat menyampaikan dihadapan peserta, Minggu (9/10/2016).
Daniel Zuhron mengatakan pentingnya pengawasan dalam suatu pemilu, dan pentingnya peran mahasiswa untuk mengawal pemilu. Terutama pemberian pemahaman kepada masyarakat  tentang sosok-sosok yang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin, hal ini agar masyarakat tidak awam dan meminimalisir adanya  politik uang. Dalam penjelasan yang beliau paparkan, sangat mengundang banyak pertanyaan dari peserta maupun tamu undangan, salah satu pertanyaan yang menarik adalah, kenapa dalam PEMILUKADA tidak adanya TPS (Tempat Pemungutan Suara) diluar daerah? lanjut,  Karena hal ini bisa jadi menjadi ladang bagi oknum calon yang memanfaatkannya dengan memobilisasi masa perantau untuk hadir di daerah dengan iming-iming uang ? .
Sedangkan Juri Ardiantoro tentang Regulasi KPU, menjelaskan bagaimana aturan -aturan dalam sebuah pemilihan dan proses yang harus KPUD Jalankan maupun pemilih  yang akan menggunakan hak pilihnya. ” Persoalan yang ada di daerah brebes, sekitar 25% penduduk yang sudah mempunyai hak pilih berada di luar daerah, dengan kondisi mencari nafkah, dibandingkan meluangkan waktu satu hari untuk pulang sekedar memilih dengan meninggalkan aktivitas di jakarta yang menghasilkan uang, pastilah mereka akan memilih melanjutkan aktivitasnya di jakarta, ini menjadi tantangan tersendiri bagi KPUD tentang bagaimana mengajak penduduk perantau untuk berpartisipasi datang ke daerah untuk menggunakan hak pilihnya, demi kesuksesan PEMILUKADA dan memunculkan pemimpin sesuai pilihannya, ” terangnya.
Acara ini juga turut dimeriahkan oleh penampilan dari putra kelahiran brebes yang membawakan teatrikal mini dan pembacaan puisi, pada sesi ini cukup membuat tamu undangan dan peserta mengikhlaskan senyumannya. Setelah disii oleh penjelasan pemateri yang cukup luar biasa, acara sosialisasi PEMILUKADA ini ditutup dengan  penandatangan MOU antara KPUD Brebes dengan KPMDB Wilayah Jakarta, serta  penyerahan sertifikat kepada para peserta.” KPMDB Wilayah Jakarta sangat berterimaksih pada KPUD Brebes yang telah mempercayakan pada kami untuk mensosialisasikan programnya, “ Ucap Anisul Fahmi S.Th.I (Ketua KPMDB Jakarta). 

Kaum Nahdliyin yang Jadi Rebutan Saat Pilkada

       Kaum Nahdliyin yang Jadi Rebutan Saat Pilkada

Oleh: Anisul Fahmi S.Th.I*

Pilkada serentak gelombang kedua diikuti 101 daerah dari tingkat Provinsi, Kabupaten, dan Kota. Termasuk diantaranya kabupaten Brebes, berbagai strategi dan cara yang dilakukan oleh kedua tim pemenangan dari dua paslon demi mengais simpati masyarakat. Safari politik ke berbagai komunitas dari mulai yang bersifat non formal sampai ormas agama kian semakin deras. Tak luput NU sebagai basis kuat di kabupaten Brebes menjadi target utama untuk mendulang suara. Tak bisa dipungkiri NU selalu menarik menjadi bagian dari ormas Agama idaman dalam pusaran pertarungan politik daerah bahkan nasional. 

NU dan Politik Praktis

NU sebagai sebuah gerakan kerakyatan, NU dengan sadar memilih kelompok Islam tradisional sebagai basis perjuangannya. Hal ini dapat diketahui dengan melihat para pemrakarsa pendiri NU maupun orientasi gerakan awalnya yakni kaum pesantren, yang merupakan benteng Islam tradisional di Indonesia.
Secara resmi, keterlibatan Nahdlatul Ulama (NU) dalam kancah politik praktis (sebagai partai politik) dilakukan sejak tahun 1953 sampai 1973. Namun demikian, bukan berarti peran politik NU hanya terbatas dalam dekade tersebut. Sebelum dan sesudah masa itu, tidak sedikit kegiatan NU yang dampak politiknya justru lebih monumental. Bahkan, ketika NU menjadi bagian penting dari Masyumi (pra NU parpol) dan saat NU masih secara resmi menyalurkan aspirasi politiknya melalui Partai Persatuan Pembangunan (pasca NU parpol), juga merupakan periode–periode penting untuk diungkap. Pada masa pra dan pasca NU sebagai parpol, eksistensi organisasi yang dimotori kaum pesantren, dengan dukungan masa dari masyarakat Islam tradisional sempat dilanda krisis identitas. Berbagai dampak negatif maupun positif akibat lamanya NU terjun dalam politik praktis merupakan alasan utama mengapa masa-masa tersebut penting untuk ditilik.

Sebagaimana catatan hasil penelitian Oleh Greg Fealy (Associate Professor di Australian National University) pada acara Tadarus Islam Nusantara di Jakarta, Greg memaparkan; pada tahun 2010 Warga negara Indonesia 65 % berafiliasi dengan ormas agama. 55 % mengindentifikasi diri sebagai Ahli Sunnah. 45 % mengaku berafiliasi dengan NU dan 8 %  berafiliasi dengan Muhammadiyah.
Sikap warga NU terhadap pemuka agamanya; 51 %  warga NU meminta saran kepada kiai tentang persoalan pribadi dan sosial. Hanya 12 % yang meminta saran kepada kiai tentang politik. Kecendrungan warga NU untuk tidak menggantungkan preferensi politiknya kepada kiai bernilai positif, menurut Greg, sebab pada beberapa kasus saran kiai dalam hal politik bukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan umat.

Demikian catatan penelitian Greg dalam skala nasional, hasil ini paling tidak bisa menjadi analisis hitungan matematis meskipun pergerakan politik selalu dinamis, apa lagi setiap daerah tentunya sangat berbeda dalam hal peta dan corak politik, sebab bicara politik maka bicara data, taktis dan kongkrit tak sebatas analisa belaka.

NU dan Pilkada Brebes

Yang terjadi Pilkada Brebes di tahun 2017 ada usaha dan upaya untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa salah satu calon akan komitmen menjaga nilai-nilai Aswaja bahkan pada acara-acara kultural NU semisal maulidan, rajaban, dan tahlilan, hal itu tidak menjamin akan keberhasilan membangun kepercayaan masyarakat Brebes berbasis NU yang begitu mengakar, bahkan bisa jadi berpotensi langkah yang blunder.

Sebaliknya dari pihak calon lain sangat optimis mendapatkan suara dari nahdliyin apalagi beredarnya selebaran surat intruksi dari pengurus cabang untuk mendukung salah satu dari pasangan calon yang tak semestinya dilakukan, karena bertentangan nilai-nilai semangat Khittah NU, meskipun hal ini kebenarannya masih diperselisihkan, Oleh sebab itu menjadi pertanyaan apakah berpengaruh dan masikah kecendrungan warga NU kultural di Brebes untuk menggantungkan preferensi politiknya kepada kiai/ustadz  cukup tinggi ataukah sebaliknya.

Proses pemahaman masyarakat NU brebes untuk meyakinkan butuh waktu panjang, keterlibatan Pasangan calon Bupati dalam kegiatan acara-acara kultural NU tentunya harus masif dilakukan namun tak bersifat dadakan dalam hal ini sangat diuntungkan bagi calon petahana. Ada beberapa faktor dominan kecendrungan masyarakat memilih atau enggan untuk memilih calon tertentu, baik yang bersumber dari asumsi pribadi atau informasi yang beredar, semisal calon bupati berasal dari petahana dan diusung dari mayoritas partai, atau calon bupati diusung dari partai yang secara ideologi tak sepaham, dan track record sebagai calon. hal-hal demikian yang seharusnya menjadi bagian dari kerja keras team pemenangan untuk mendongkrak suara.

Sedangkan ormas Muhammadiyah tetap diperhitungkan namun tak sepenuhnya menjadi prioritas. Loyalitas dan kepatuhan faham partai yang berafiliasi dengan Muhammadiyah atau NU tak menjamin oleh umat atau anggota untuk mengikuti, dan semacam ini terjadi di Brebes, bisa saja pengaruh suasana hiruk pikuk politik Jakarta, namun hal ini di alami oleh sebagian kecil yang mengikuti perkembangan politik sebab masyarakat Brebes lebih dominan kaum petani tak peduli politik DKI. Karena bagaimanapun demokrasi bukan tujuan utama tapi hanya sebagai alat menuju tujuan yang semestinya. Siapapun yang terpilih tentunya tetap menjadi pemimpin kita semua, Semoga amanat demi kemaslahatan umat menuju Brebes yang bermartabat.




·   Dilahirkan di Desa Dumeling, Wanasari Brebes, sekarang sedang menempuh Program Pascasarjana STAINU Jakarta, Kosentrasi Sejarah Kebudayaan Islam. Ketua Umum KPMDB Jakarta.


Sabtu, 06 Februari 2016

KPMDB Jakarta Deklarasikan Gerakan Anti Narkoba


Deklarasi Anti Narkoba
Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) mendeklarasikan perang terhadap bahaya narkoba. Deklarasi yang dibacakan oleh perwakilan KPMDB dan Bupati Hj Idza Priyanti SE dilakukan di sela-sela kegiatan Seminar dan Aksi Sosial Anti Narkoba di Pendapa Kabupaten Brebes, Senin (1/2).

"Kami Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes Siap Mendukung Gerakan Brebes Bebas Narkoba. Jauhi Narkoba, Selamatkan Keluarga. Say No To Drugs. Kegiatan ini mendapat respon positif dari Badan Narkotika Kabupaten Brebes pula,”tukas Ketua Umum KPMDB Wilayah Jakarta, Anisul Fahmi.
Menurut mahasiswa Fakultas Usuludin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan, digelarnya kegiatan yang mendapat dukungan penuh bupati tersebut dalam rangka mengawal Kabupaten Brebes anti narkoba untuk menuju generasi muda berprestasi tanpa narkoba. “Kegiatan tersebut merupakan kontribusi KPMDB Komisariat Jakarta untuk Kabupaten Brebes. Ada sekitar 250 peserta dari perwakilan KPMDB se-nusantara dan pelajar se-Kabupaten Brebes yang mengikuti agenda tersebut” tandas Anisul Fahmi.
Tampil sebagai pembicara dalam seminar masing-masing Drs H Atmo Tan Sidik (Kepala Badan Narkotika Kabupaten Brebes), AKP Yono (Kasat Narkoba Polres Brebes) dan Akrom Jangka Daosat MSi (Sekretaris FKUB Kabupaten Brebes).
Bupati Hj Idza Priyanti SE di sela-sela seminar saat dihubungi menyampaikan apresiasi dengan digelarnya Seminar dan Aksi Sosial Anti Narkoba. “Kita perang dengan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Brebes. Sebagai kepala pemerintahan, saya terus berupaya semaksimal mungkin agar narkoba jauh dari Kabupaten Brebes. Perlu dilakukan upaya kerjasama pula dengan stake holder terkait dalam rangka memberantas peredaran narkoba di Kabupaten Brebes,”pungkas bupati (Kun.0302).

http://www.kla.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3220:mahasiswa-dan-pelajar-brebes-deklarasikan-gerakan-anti-narkoba&catid=110:brebes&Itemid=133

Selasa, 17 November 2015

Khidmat, Pelantikan dan Raker KPMDB Jakarta Masa Juang 2015-2016

Khidmat, Pelantikan dan Raker KPMDB Jakarta Masa Juang 2015-2016
14 November 2015, KPMDB wilayah Jakarta masa juang 2015-2016 resmi dilantik. Ikrar pelantikan khidmat dibacakan langsung oleh ketua KPMDB Pusat, M. Iqbal Zakaria, dan diikuti oleh seluruh pengurus dibawah kepemimpinan Anisul Fahmi, berikrar siap mengabdi untuk KPMDB. Kepengurusan baru KPMDB wilayah Jakarta terdiri dari mahasiswa Brebes dari berbagai kampus di Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi dan Karawang (Jadetabeka). Acara yang bertempat di villa Gintung Indah Cirendeu, Tangerang Selatan, bertema“ Mengembalikan Ruh KPMDB Jakarta dan Meneguhkan Kembali Makna Putra Putri Daerah” acara hari ini dihadiri alumni, pembina, dan pengurus pusat serta tamu undangan.
KPMDB Jakarta yang mempunyai lingkup luas, dari  Jakarta, Depok,Tangerang,  Bekasi dan Karawang (Jadetabeka), mempunyai tantangan berat dalam perjalanannya. Tantangan tersebut dapat muncul dari akses dan komunikasi yang terjalin ke berbagai kampus dalam lingkup tersebut. Untuk mencegah hal tersebut, alumni, Pembina, dan pengurus KPDB pusat memberi pengarahan dan motivasi kepada pengurus baru. Seperti yang dinyatakan oleh Bapak Drs. Syahroni, MA, salah satu Pembina KPMDB Jakarta, “organisasi ini berasas kekeluargaan, tak ada kepentingan di luar keluarga di tubuh KPMDB, harapan beliau KPMDB Jakarta menjadi organisasi yang diharapkan masyarakat Brebes.
Acara yang bertajuk Pelantikan dan Raker hari itu sukses diselenggarakan, dilanjutkan dengan rapat Kerja (raker). Sebelum raker dimulai, ketua KPMDB wilayah Jakarta mendeklarasikan komisariat yang terbentuk dalam lingkup KPMDB Jakarta. Komisariat-komisariat tersebut yaitu Komisariat UNPAM, UMJ, UIN Syarif Hidayatullah, UNJ, dan Komisariat Karawang-Bekasi. Menurut ketua KPMDB Jakarta, “Dengan niat baik dan itikad yang kuat pembentukan komisariat ini bertujuan untuk membangun basis kekeluargaan semakin solid dan kompak dari tiap-tiap kampus tegas ketua yang akrab dipanggil Anis. Acara diakhiri dengan foto bersama dan ramah tamah.  (Imron/ Humas KPMDB Jakarta) 



Minggu, 27 September 2015

Mengembalikan Ruh KPMDB Jakarta

Sebagai sebuah organisasi berbasis primordial yang sudah mapan KPMDB  Jakarta memiliki akar sejarah dan trasformasi gerakan yang memberikan isyarat perubahan secara kontinue. Perlu difahami oleh seluruh keluarga besar mahasiswa Brebes bahwa organisasi etnis dibangun atas dasar kekelurgaan, solidaritas dan persekawanan yang kuat. Namun sebagai pembelajaran organisasi etnis juga perlu menjalankan prinsip-prinsip administrasi, manajemen dan konstitusi organisasi modern.
Karena organisasi etnis yang berbasis primordialisme inilah, maka platform organisasi lebih mengendepankan pemberdayaan terbatas pada mahasiswa Brebes dan berusaha menjadikan persoalan daerah asal sebagai ruang eksperimentasi gagasan dan segmentasi bergerak dalam proses implementasi visi dan misi organisasi. Namun yang menjadi persoalan adalah sejauh mana pengurus dan anggota organisasi etnis tersebut memiliki kesadaran akar primordialisme, akar tradisi dan akar budaya yang mengikat persaudaraan dan kekeluargaan.

Idealnya setiap individu di organisasi berbasis primordial; pertama, memiliki manifestasi kesadaran pada mulanya mereka berasal dari daerah yang sama. Kedua, memiliki manifestasi kesadaran akan ikatan kekeluargaan sebagai basis ideologis yang paling dasar dan pokok. Ketiga, memiliki manifestasi kesadaran akan bahasa pengikat yang digunakan dalam berkomunikasi dan komunitas kelas masyarakat Brebesan yang memiliki karakter, akar tradisi dan budaya yang kuat.

Memaknai Kembali Putra Daerah

Di era desentralisasi dan otonomi daerah ini peran serta dari semua elemen masyarakat tak terkecuali mahasiswa tidak dapat dielakkan lagi dalam membangun dan mengelola daerahnya sesuai dengan sumber daya masing-masing. Begitu pun yang ingin dilakukan para mahasiswa Brebes khususnya yang berada di Jakarta yang tergabung dalam KPMDB Jakarta. Oleh karena itu, KPMDB Jakarta terus mengadakan kegiatan yang dapat menjaga eksistensi anggota dan organisasinya. Kegiatan atau program yang dilaksanakan KPMDB Jakarta adalah berorientasi pada penguatan basis intelektual, pelatihan, pembekalan dan peningkatan life skill, dan kepedulian sosial. Organisasi ini dibentuk  sebagai wadah pembelajaran mahasiswa Brebes untuk membina, mengembangkan dan menyalurkan bakat, minat, dan skill mahasiswa dalam wahana intelektual, social, dan keagamaan.  Sejak tahun berdirinya hingga sekarang KPMDB Jakarta terus berusaha untuk  memberikan kontribusinya yang terbaik kepada masyarakat Brebes, hal ini adalah sebagai bentuk partisipasi, loyalitas, dan pengabdian mahasiswa kepada tanah kelahirannya.


Tadarus Salih Ritual Kyai Hasyim Asy’ari

Tadarus Salih Ritual Kyai Hasyim Asy’ari Oleh: Anisul Fahmi Kyai Hasyim Asy’ari sosok figur yang sangat produktif dalam dunia k...