Selasa, 26 Desember 2017

Manusia Yang Tak Manusiawi

Manusia yang katanya makhluk sosial ternyata individual.
Manusia kaya akan teoritis rasa manusiawi semakin terkikis.
Pangkat manusia semakin tinggi rasa dengki terus meninggi.
Populasi manusia semakin banyak rasa iba semakin tak tergerak.
Populasi perempuan semakin banyak, kekerasan semakin merambak.
Populasi laki-laki semakin sedikit, tanggung jawab semakin devisit.
Materi menjadi segalanya mengalahkan Tuhannya.
Makhluk sosial tipu muslihat jika niat kepentingan sesaat yang tak maslahat.
Tak usah bicara ikhlas kalau masih masih menindas.
Tak usah bicara kerja sosial kalau nyatanya cuma membual.
Manusia yang tak manusiawi sudahi tipu daya duniawi.

Anisul Fahmi




Ciputat 24-12-17

BICARA ATAU DIAM

Ilmu minim banyak bicara ilmu memadahi banyak alpa.
Semakin banyak bicara semakin pula ia dipercaya benar adanya.
Kapasitas ilmu itu soal belaka yang penting retorika membius banyak mata.
Tak peduli salah atau benar asal audiens menilai pintar. Belajar dengan instans baginya sudah mapan.
Merasa pintar semakin lupa sadar akan belajar. Merasa mampu semakin lupa sadar akan kurangnya ilmu.
Disisi lain banyak ilmunya namun tak cakap berbicara dengan kaya akan bahasa.
Bisa saja dia tak ada relasi menuju ke sana. Atau karena sibuk mencari suaka untuk ekonomi keluarga.
Bukan kah banyak bicara banyak lupa sehingga berbuat dosa ?
Berdosa jika banyak berbicara tak berdasarakan kebenaran yang ada.
Diam tanpa menyadarkan akan kebatilan hakikatnya dia membiarkan.
Di zaman penuh dengan caci maki masih saja berdiam diri tanpa peduli.
Di zaman yang penuh semu tak lagi harus rendah hati untuk berbagai Ilmu. "Berkatalah baik, benar dan maslahah jika tak mampu lebih baik diam dari pada bikin fitnah". 
Anisul Fahmi
07-12-17

#JanganLupaBahagia

GOTONG ROYONG OMONG KOSONG

Sifat acuh tak acuh kerap terjadi dimana-mana tak hanya di kota bahkan sekarang menjalar di desa. Individual dan cenderung menutup diri baginya nyaman, aman tanpa beban bebas dari belenggu ocehan. Masa bodoh dan tak mau tau di sekitar lingkungan olehnya menjadi jalan pikiran. Kehidupan diluar lebih nyata dibanding kehidupan disekitar mereka. Dunia maya menjadi hakikat hidupnya tanpa peduli dunia yang hadir didepan mata. Sibuk keliling dunia namun lupa akan tetangga. Sibuk silaturrahim tanpa rupa namun ia lupa mengabaikan jumpa dan sapa dengan tetangga. Yang katanya makhluk sosial ternyata makhluk individual. Yang katanya makhluk gemar gotong royong ternyata omong kosong.
Ia lupa kalau nabi bersabda "sebaik-baiknya tetangga ialah yang berbuat baik kepada tetangga sebaik-baiknya sahabat ialah yang yang berbuat baik kepada sahabat"
Anisul Fahmi

06-12-17

SEHAT ?

Perkembangan dunia medis cepat melesat. Pengobatan semakin canggih. Tenaga medis dan praktisi kesehatan berjibun tak terhitung. Pendirian rumah sakit dan klinik menjamur dan terukur melayani segala umur mengobati penyakit berbagai unsur. Pemerintah menjamin kesehatan akan keselamatan demi berlangsungnya tatanan, benarkah anak cucu negeri menikmati ? Ataukah hanya ilusi ? Fenomena yang terjadi masih disana sini hak kesehatan terkekang soal materi. Ketimpangan sosial dan ekonomi semakin kentara dan terasa dimata rakyat jelata, tradisi buruk pengelompokan berdasarkan penghasilan semakin jelas dan lugas.
Potret buram kesehatan semakin runyam.
Bicara sehat bicara soal isi kantong tak sekarat. Masihkah ada kerja-kerja sosial dengan tulus dan terus menerus tanpa ada niat mengendus ?.
Anisul Fahmi
04-12-17

#JanganLupaBahagia

RUMAH MEWAH KELUARGA PUNAH

Zaman edan semua menjadi tak beraturan dan tak karuan.
Rumah mewah keluarga saling pisah.
Rumah minimalis keluarga beradu sinis.
Rumah penuh laknat tak lagi rahmat.
Rumah menjadi sebab emosi caci maki.
Rumah tak lagi teduh saling menuduh.
Rumah penuh curiga saling tak percaya.
Rumah mewah penghuni malah serakah.
Keluarga tak lagi menjadi saudara.
Saudara tak lagi menjadi keluarga.
Tak lagi menjadi saudara keluarga.
Hidup tanpa silaturrahmi lebih berarti.
Rumahku surgaku rumahmu nerakamu.
Rumahmu surgamu rumahku nerakaku.
(JAMAN EDAN ORA EDAN ORA KEDUMAN)
Anisul Fahmi
01-12-17

#JanganLupaBahagia

GELAR DUNIA HATI FANA


Gelar semakin menggelegar malah semakin liar gelar semakin tinggi justeru hilang Peduli.
Akal sehat tak manfaat malah bikin sesat akal sehat tak berguna justeru bikin guna-guna.
Akal waras yang tak selaras akal waras yang tak membekas.
Hati nurani suci tergantikan pundi-pundi materi, hati nurani yang tulus mengendus demi fulus.
Etika tak lagi ada, emosi semakin membabi buta.
Yang katanya pendidik tapi mengapa menghardik ?
Yang katanya humanis tapi mengapa bersikap bengis ?
Yang katanya mengajak tapi mengapa menginjak ?
Yang katanya ilmuan tapi mengapa ajarkan tipuan ?
Dimana hilangnya hati Qur'ani atas titah sang nabi, goresan tinta sabda nabi tak lagi ada di hati. 

Anisul Fahmi
30-11-17

Sabtu, 25 November 2017

Pancasila Rahmat atau Laknat !!!


Pancasila Rahmat atau Laknat !!!
Oleh: Anisul Fahmi

Seminar/Diklat bertemakan Pancasila, tak terhitung dan riuh bak layaknya hiruk pikuk pasar tradisional Indonesia. mulai dari instansi pemerintah sampai institusi agama bersatu padu menyuarakan "NKRI HARGA MATI PANCASILA IDEOLOGI NEGARA" namun hasrat gegap gempita tanpa syarat makna seolah agenda seremonial semata. Komitmen Pemerintah dengan semangat nan bergelora tak dibarengi dengan penghayatan ruh Pancasila menjadi ruang hampa. Tak beda bagaikan wanita cantik jelita tanpa etika. Basis Epistemologi Pancasila luas seluas Indonesia, Ontologi Pancasila kuat Sekuat Garuda, Aksiologi Pancasila Indah se Indah Pulau Nusantara.
Ruh Pancasila tamat seakan kiyamat begitu dahsyat ulah para pejabat pemakan uang rakyat yang katanya sudah adat. makna Pancasila lepas begitu saja ditangan Pemuka Agama tanpa alpa. Etika berbangsa dan beragama tak lagi nyata hanya polesan semata. Krisis nasionalisme terus menggerus bangsa, negara dirundung konflik hanya soal kepentingan belaka, konflik faham agama selalu hadir ditengah keluarga, pusaran konflik sektarian dan gerakan radikalisme selalu menyapa. Tak kalah tragis gaya hidup anak muda yang hedonis dan apatis.
Pancasila hadir sebagai rahmat bukan laknat Pancasila Humanis tak bengis Pancasila merangkul tak memukul Pancasila mengajak tak mengejek Pancasila mendidik tak menghardik. Peran pemuda sebagai ruh perjuangan bangsa dan Agama harus mampu mengamalkan akan nilai-nilai pancasila. yakni kemerdekaan, kedaulatan, keadilan, kecerdasan dan memakmurkan bangsa Indonesia dalam landasan kemerdekaan, merdeka dari rasa takut, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika pemuda mampu berkarya demi terciptanya Indonesia bersama.
Yakin dan optimis makna Pancasila masih kokoh menancap didada Kader Umat dan Bangsa selama Iman Islam dan Ihsan melindungi Kita. Sudahi air mata ibu Pertiwi, kita usap dengan senyuman penuh arti melanjutkan misi, ratapan dan tetesan Air mata para pejuang bangsa di alam baka kita ganti dengan semangat kerja nyata sebagai bukti bakti cinta negeri. Tanamkan cinta Indonesia cinta akan Bangsa cinta akan Agama cinta Akan Ulama.
Matraman 25 Nopember 2017

Salam Anisul Fahmi
Penikmat Kopi 

Tadarus Salih Ritual Kyai Hasyim Asy’ari

Tadarus Salih Ritual Kyai Hasyim Asy’ari Oleh: Anisul Fahmi Kyai Hasyim Asy’ari sosok figur yang sangat produktif dalam dunia k...